Uncategorized

Gaya Hidup Minimalis & Konsep Hemat; Frugal Minimalist

Percayalah, tulisan ini hadir diantar dengan perasaan menggebu-gebu saya yang tidak sabar untuk membagikan perspektif ini kepada teman-teman pembaca. Kita akan sedikit mundur dari pembahasan gaya hidup minimalis yang saya jalani. Kali ini saya mau membahas mengenai konsep yang saya percaya mengenai gaya hidup minimalis dan bagaimana korelasinya dengan konsep uang versi saya. Pertama, kita mulai dengan,

  • Bagaimana minimalisme dan gaya hidup minimalis menurut saya. 

Minimalisme adalah sebuah konsep. Konsep tentang kecukupan. Konsep tentang bagaimana kita melihat value sebuah benda dan bagaimana kita bisa memilah hal-hal yang bermanfaat dan mana yang tidak demi meningkatkan kualitas hidup. Sedangkan gaya hidup minimalis adalah ketika kita bisa menerapkan konsep tersebut ke dalam kehidupan sehari-hari.

Setidaknya itulah yang saya percaya dan pahami dalam menjalaninya.

Image from Unsplash

Minimalisme dan gaya hidup minimalis di Indonesia belum terlalu banyak dibahas dan saya lihat baru 2 tahun belakangan ini mulai mencuat lewat digital. Yang saya lihat, saat ini masih banyak orang yang mengasosiasikan minimalis dengan konsep desain bangunan atau visual. Jika diminta untuk menjelaskan lebih detail, sebagian menjawab minimalisme dan gaya hidup minimalis identik dengan sesuatu yang harus terlihat rapi, teratur, monoton dan monokrom. Kalau enggak hitam, ya putih. Begitu pikirnya. Apakah benar?

Menjalani gaya hidup yang tidak dijalani oleh banyak orang pasti mengundang beberapa polemik. Kita akan berhadapan dengan dua kubu yang saling berlawan; mereka yang terinspirasi dan consider untuk mengikuti dan mereka yang menganggap kita aneh, sering pula memberikan komentar nyinyir akan kegitan yang kita lakukan. Contohnya “Katanya belajar minimalis tapi kok masih suka belanja baju dan barang lainnya?” atau “Katanya belajar minimalis, tapi kok barang-barangnya berantakan?”, “Katanya minimalis tapi kok beli barang mahal, nggak hemat” yang terakhir “Itu sih bukan minimalis namanya tapi irit!”.

Image from Unsplash

Pertanyaan dan pernyataan di atas tidak akan terjadi ketika kita tidak hanya punya satu standar “minimalisme” yang diterapkan ke semua orang yang menjalaninya. Untuk saya, minimalisme dan gaya hidup minimalis tidak mesti harus diasosiasikan dalam satu bentuk dan menjadikan satu bentuk tersebut sebagai sebuah standar keharusan dalam menilai bagaimana seseorang menjalaninya. Kita tahu Marie Kondo sebagai salah satu tokoh minimalisme dengan cara-caranya merapikan dan menggunakan barang. Namun, tidak semua orang yang menjalani gaya hidup minimalis bisa dan harus menjalani apa yang dijalankan oleh Marie Kondo karena beberapa hal. Salah satunya adalah karena Marie Kondo bukanlah satu-satunya tokoh minimalisme yang dia lihat dan sesimpel karena apa yang dijalankan Marie Kondo mungkin tidak masuk ke dalam konsep minimalisme versinya.

Bagi saya, menjadi seorang minimalis bukan berarti harus menjadi seseorang yang tidak boleh membeli apapun lagi selain barang-barang yang ia sudah miliki. Jadi tidak ada cerita bahwa saya dan teman-teman yang menjalaninya tidak bisa berbelanja selama kita bisa memastikan kegunaan barang tersebut dan sudah mengetahui bagaimana dan di mana kita menyimpannya.  Sama halnya dengan menjadi seorang minimalis bukan berarti harus merubah preferensi warnanya menjadi monokrom dan harus selalu tampil rapi. Justru saya melihatnya memiliki gaya hidup minimalis lebih berwarna karena orang-orang minimalis lebih fokus pada experience dibandingkan barang.

  • Lalu bagaimana hubungan antara gaya hidup minimalis dan uang? 

Image from Unsplash

Seringkali gaya hidup minimalis dianggap identik dengan hemat. Apakah benar keduanya sama dan berkaitan? Saya coba jabarkan menurut versi saya ya:

Minimalis: Melihat dan memilah suatu barang atau aktifitas karena kegunaannya. Owning less stuff. 

Hemat: Melihat dan memilah suatu barang atau aktifitas dari nilainya (nilai uang). Spending less money on stuff. 

Keduanya memang hampir mirip, yang membedakan adalah bagaimana keduanya memandang barang dan uang dalam spektrum yang berbeda.

Orang-orang hemat lebih fokus pada bagaimana mereka bisa mengatur dan menggunakan uangnya untuk hal-hal yang sifatnya lebih banyak dengan uang yang lebih sedikit. Contohnya adalah ketika kita berbelanja suatu barang di bazaar, yang tadinya Rp1000,000 kita hanya bisa mendapatkan 3 barang, kemarin kita berhasil mendapatkan 5 barang dengan harga diskon. itu adalah bentuk dari frugalismeMostly, the focus is more on the quantity. Kita juga biasa menjalaninya sehari-hari seperti membeli barang diskonan atau membeli makanan menggunakan aplikasi dompet online GO-PAY, OVO, DANA dll untuk mendapatkan harga yang lebih murah. Orang-orang hemat bisa saja membeli barang-barang yang mereka suka namun tidak dibutuhkan ketika ada diskon, karena fokus mereka ada pada deals & sales. Tentunya, kadang kegiatan ini membuat orang-orang hemat bisa memiliki banyak barang yang tidak terlalu bermanfaat untuknya dan hal ini cukup kontradiktif dengan konsep minimalisme.

Orang-orang minimalis lebih fokus pada bagaimana mereka bisa mengeluarkan uangnya untuk barang atau hal yang benar-benar bermanfaat, tidak fokus pada nilai uangnya. Mereka fokus untuk meningkatkan kualitas hidupnya dengan memiliki barang yang berkualitas dan bisa digunakan dalam jangka waktu yang lama. Bagaimana cara mereka spending money? Mereka bisa saja mengeluarkan uang dalam jumlah yang lebih banyak untuk hal-hal yang mereka nilai memang bermanfaat.  Contohnya adalah ketika di bazaar kita membeli 1 dress pesta yang benar-benar bisa digunakan dalam waktu lama dengan harga Rp1,000,000. Setelah membeli, kita memutuskan untuk menjual/mendonasikan baju pesta lain di rumah yang sudah tidak dipakai lagi. The focus is more on the quality. Pengeluaran uang kita bergantung pada value yang kita dapatkan dari barang tersebut.

Kesimpulannya, Being frugal means living with less, while being minimalist means living with better. 

  • Bagaimana jika kita menjalani keduanya?

Setelah memahami kedua konsep yang berbeda, pertanyaan berikutnya adalah apakah bisa kita menjalani keduanya secara bersamaan? Jawabannya bisa. Menurut saya, mengombinasikan keduanya bisa jadi sesuatu yang powerful untuk diri kita. Orang menyebutnya dengan,

Frugal minimalist, yaitu ketika kita bisa memiliki sedikit barang yang benar-benar bermanfaat dengan harga yang lebih ekonomis. Kita bisa menjadi orang yang bisa pandai dalam mengatur, mengeluarkan dan memiliki uang atau barang untuk meningkatkan kualitas hidup. 

Image from Unsplash

Faktanya berdasarkan yang saya jalani, mengombinasikan keduanya benar-benar membantu hidup saya sekarang. Memiliki konsep hemat membantu saya untuk lebih kreatif dan jeli dalam mengeluarkan uang untuk suatu barang. Sementara konsep minimalis membantu saya untuk bertanya lebih dalam ketika berbelanja, “Apakah saya benar-benar membutuhkan barang ini?” dan “Apa saya tahu barang ini nantinya akan disimpan di mana?”.

Bagaimana menurut kalian? bagaimana kalian #BelajarJadiMinimalis dan apakah kalian mengombinasikannya dengan konsep hemat? 🙂 Share yuk!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *