Personal, Self Improvement

Diet Skin Care & Beralih ke Skin Care Natural

Halo semuanya, baru sempat untuk menulis lagi di blog ini setelah sekian lama rasanya tuh senang banget. Tulisan kali ini masih berhubungan dengan resolusi 2019 saya, #BelajarJadiMinimalis yang sudah saya post sebelumnya. Baca postnya di sini.

Salah satu hal yang saya lakukan untuk mendukung resolusi tersebut adalah dengan menjalani diet skin care. 

Foto: Christin Hume, Unsplash

Awal Mula Diet Skin Care

Trend skincare jadi booming mungkin sejak 2-3 tahun lalu seiring dengan berkembangnya digital yang melahirkan banyak beauty influencer di sosial media. Jujur saja, saya & beberapa teman dekat mengenal skin care dari beauty influencer yang kami follow di Instagram dan Youtube. Awalnya excited banget coba sana-sini skin care yang direkomendasikan terus menerus dan somehow kita jadi merasa butuh dengan produk-produk yang ditawarkan.

Trend skincare ini mewabah dengan liarnya. Skemanya mudah sekali, setelah kena brainwash marketing kemudian lari menuju ke believe bahwa produk tersebut dibutuhkan dan ujungnya mempengaruhi behavior, yaitu beli produk-produknya.

Kalau bisa kita ingat-ingat, awalnya mungkin kita cuma pakai sabun cuci muka aja, bahkan berpikir bahwa produk itu cukup sebagai perawatan sehari-hari karena toh enggak muncul masalah kulit di wajah. Tapi, sekarang produk yang kita pakai bisa sampai 10 produk dalam 1 malam. Bahkan produk pagi dan malam saja bisa berbeda. Sebut saja jenisnya:

  1. Make Up Remover + Kapas
  2. First Cleanser 
  3. Second Cleanser 
  4. Exfoliating Toner 
  5. Hydrating Toner 
  6. Essence
  7. Serum 
  8. Face Oil 
  9. Moisturizer 
  10. Sheet Mask/Mask 

Semua saya coba, saya yakin kalian juga punya atau pernah mencoba semua produk-produk yang disebutkan di atas. Tapi, lama kelamaan saya lelah mengikuti beauty trend. Hal ini dipicu oleh munculnya masalah kulit wajah yang tadinya tidak saya rasakan sebelum mencoba banyak produk skin care karena keracunan beauty trend. Keadaan ini juga didukung oleh keadaan saya yang beberapa waktu ini mengalami Quarter Life Crisis sehingga memaksa saya untuk lebih selektif dalam mengeluarkan uang untuk beli produk. Setelah berpikir panjang dan mencari tahu dari berbagai sumber, saya memutuskan untuk menjalani diet skin care. Diet skin care yang saya lakukan adalah sebagai berikut:

  •  Selektif, Untuk Menghindari Pemikiran “Dibuang sayang”

Selektif dalam artian enggak mudah terpengaruh sama beauty trend yang direkomendasikan oleh para beauty influencer. Banyak dari kita yang tidak sadar bahwa tidak semua produk yang direkomendasikan itu kita butuhkan dan cocok untuk kulit kita. Bahkan seringkali kita membeli produk yang fungsinya sama dengan produk yang sudah ada di rumah hanya karena penasaran dengan brand yang direkomendasikan oleh beauty influencer. Hal ini mengakibatkan produk lama yang kita punya jadi terbengkalai padahal masa expired produk terus berjalan. Ujungnya bisa ditebak, produk tersebut menumpuk tidak terpakai di rak skin care.

  • Skin Care Decluttering

Saya coba sortir lagi produk mana saja yang benar-benar cocok saya gunakan sehari-hari. Produk-produk yang memiliki fungsi yang sama akan saya tes lagi mana yang paling oke untuk kulit saya, sisanya akan saya pisahkan untuk dijual atau diberikan kepada teman dan saudara dekat. Oh iya, trend ini membuat saya sadar bahwa skin care bisa jadi instrumen investasi lho. Bukan hanya investasi kesehatan kulit wajah, tapi juga investasi bernilai uang. Menjual skin care menguntungkan lho, skin care ternyata bisa jadi investasi karena bisa diperjualbelikan ke orang lain yang mungkin mau coba pakai namun sayang untuk beli yang baru. Beberapa kali saya coba jual di carousell, Instagram pribadi atau apps Female Daily. Hasilnya lumayan banget buat tambahan jajan :D.

  • #Pakaisampehabis dan Beralih ke Produk Lokal yang Natural

Proses decluttering skin care benar-benar saya nikmati. Dari yang awalnya excited banget untuk pakai semua produk sampai akhirnya merasa semua produk tersebut jadi beban yang dipaksakan. Jadi, setelah melakukan decluttering rasanya beban setiap hari pagi dan malam berkurang karena tidak lagi harus memaksakan diri untuk menggunakan banyak produk ke wajah pagi & malam hari. Setelah melakukan decluttering, saya hanya menggunakan produk yang diperlukan oleh kulit saya saja dan berusaha untuk menghabiskan semua produk tersebut, lalu menggantinya pelan-pelan dengan produk skin care lokal yang natural. Kenapa harus lokal dan natural? Skin care kebanyakan yang jadi trend mengandung banyak bahan kimia yang mungkin kita sendiri tidak begitu paham terbuat dari apa. Saya merasa sayang untuk terus memasukkan bahan kimia tersebut ke wajah dan memilih untuk lebih mencintai  dan bangga akan produk lokal yang menggunakan bahan-bahan alami. Kalau dari sisi emosional, saya merasa menjadi “manusia” dengan menggunakan bahan-bahan yang berasal dari alam. Dari sisi lingkungan, tentunya penggunaannya lebih ramah lingkungan dan tidak menyakiti hewan.

Beberapa produk yang sudah saya alihkan ke skin care lokal dan natural antara lain: Essence, serum, face oil dan face mask. 

KiKa: Witch Hazel Essence, Fresh Matcha Scrub, Aubree Brightening Serum & Grapeseed Treatment Oil from Aubree Skin

Luxcrime Mint Mud Mask & Turmeric Jasmine Mud Mask

Indoganic Rosehip Oil

Satu lagi skin care lokal yang saya miliki, yaitu sunscreen dari Wardah Beauty. Saat ini belum semua produk skin care saya alihkan ke lokal dan natural karena memang produk lainnya masih belum habis. Masih ada produk Moisturizer & Toner yang masih menggunakan produk buatan Korea, setelah habis nanti saya berencana untuk mengalihkannya juga ke produk lokal dan natural.

Apa Dampak Dari Mengurangi Penggunaan Produk Skin Care?

Dampak yang saya rasakan antara lain:

  1. Beban waktu dan tenaga dalam menggunakan skincare jadi berkurang
  2. Lebih hemat
  3. Lebih banyak bersyukur.

Nyatanya, saya tidak menemukan perubahan negatif di kulit saya setelah mengurangi produk skin care.

Justru saya merasa lebih mengerti dengan kondisi kulit dan bersyukur dengan kulit yang saya miliki.

Saya percaya, kuncinya adalah merasa cukup, kita tidak memerlukan banyak produk hanya untuk memuaskan rasa penasaran dan keinginan untuk mengikuti trend saja.

Karena yang paling penting adalah bagaimana kita merawat kulit yang kita miliki, bukan malah jadi mengorbankannya demi beauty trend belaka.

Teman-teman ada yang sudah memulai untuk diet skin care juga? Atau mungkin jadi tertarik untuk melakukannya? Sharing yuk di kolom komentar! 🙂

Related Posts

4 thoughts on “Diet Skin Care & Beralih ke Skin Care Natural

  1. hani says:

    Haihai salam kenal. So far sih aku rasanya udah minimalis. Hari² cuma facial wash, toner, sunprotection, BB cream. Malem, facial wash, toner, skin cream. Udah lama engga pakai fondation dan bedak.

    1. Halo mbak Hani salam kenal juga. Semoga terus berlanjut yaa, wah sama banget saya juga udah lama enggak pernah pakai foundation lagi bahkan saat kondangan juga engga pakai make up macem2 karena berat 😀

  2. Nabila says:

    Huhu jadi kesindir suka impulsif beli skincare dan merasa kulit kita butuh padahal skincare 3 bulan lalu jg belm abis…Jd termotivasi untuk diet skincare juga :”D Thanks kak!

    1. sama sama mbak Nabila 😀 jangan lupa untuk selali #PakaiSampaiHabis dan #PakaiSampaiRusak yaa. Untuk tips lainnya boleh cek IG @lyfewithless dan podcast juga Lyfe With Less 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *