Uncategorized

Monolog Dalam Senyap

Satu jam tadi perlahan berubah jadi lalu dengan cepat. Berlalu tanpa menyisakan sedikitpun belas kasih terhadap aku, si pedang tanpa mata. Satu jam lalu, aku mendapatkan julukan itu darinya.

Waktu seperti sedang memainkan lagi peran antagonisnya. Ialah pembunuh berdarah beku yang tak berwujud. Kamu tak akan tahu bahwa saat ini kamu sedang dihisapnya pelan-pelan. Dihisap tenaganya, auranya, ingatannya, bahkan sisa-sisa memori yang sebenarnya masih ingin kamu simpan bertahun-tahun lagi.

Pedang tanpa mata, ia membunuh siapapun secara keji tanpa mengingat siapa tuannya, siapa orang yang sedang dihujamnya. Akulah si pembunuh harapan. Harapan yang tadinya membara dari sepasang mungkin yang mengaku-ngaku jadi sebuah kita. Aku yang menyebabkan derai air mata itu keluar dari lubuk persembunyiannya selama ini, yang perempuan ini coba tahan-tahan entah berapa lama. Mungkin sejak pertama mengenalku dan terbutakan oleh asa yang dipercayanya sebagai cinta. Dan semesta juga pasti ikut-ikutan mengutuk atas keping hati yang terluka karena keputusan satu jam lalu yang baru kubuat.

Lalu, hukuman apa yang paling pantas diberikan untuk si pedang tanpa mata ini? Mungkin kini dunia sedang berkonspirasi menjawab pertanyaanku. Sebut saja yang kalian mau, enyahkan saja kalau bisa. Aku pasrah mendukungnya.

Sebelum semesta menelanku bulat-bulat, masih adakah ruang untuk berkompromi? Aku tahu mungkin terlambat meminta keadilan. Siapa juga yang akan berbelas kasih memberikannya? Tapi, di antara jutaan dukungan dan cerita tentang mereka yang merasa tersakiti, apakah ada yang pernah peduli pada naluri kami yang kalian sebut si pedang tanpa mata? Semua sibuk melihat besarnya ruang kosong yang tercipta usai perpisahan tapi lupa bahwa mungkin saja ini sebenarnya hanya tentang mereka yang tak bisa menerima perubahan.

Apakah pernah ada yang sibuk berpikir berapa besar palugada yang berputar di hati kami sebelum memutuskan sesuatu yang mereka anggap sebagai kejahatan tak terampuni? Kenapa tak pernah ada yang berpikir bahwa sebelum mereka merasa tersakiti, kamilah yang akan hancur terlebih dahulu merelakan memori-memori lalu tentangnya harus diarsip rapi.

Aku. Kali ini aku berjanji tak akan menyebut kami lagi. Aku hanya meminjam kekuatan dari kata “kami” di paragraf-paragraf awal untuk memerangi kemelut dengan dia yang terjadi satu jam lalu. Dia, perempuan paling kuat yang pernah bersama aku dan egoku tanpa pernah meminta nama dari hubungan kami. Perempuan paling sabar yang senyumnya tak pernah hilang bahkan saat harus menungguku selesai bekerja hampir 20 jam kala itu. Dia yang datang di suatu malam dengan tergesa membawa sup panas hanya untuk memastikan aku sembuh keesokan harinya setelah memakan sup buatannya. Dia yang terus berharap, sedang aku masih sibuk bersantai.

Kita adalah sepasang kemungkinan yang menjelma menjadi asa. Sama-sama mencinta, namun enggan bersuara. Dia yang senyap dengan seluruh percayanya, sedangkan senyapku berbalut ketakutanku. Aku takut suatu waktu dia akhirnya meminta sedang aku masih belum siap untuk mewujudkan karena masih ada tanggung jawab yang belum terselesaikan atas mimpi adik-adik yang menunggu kakak brengseknya ini pulang ke rumah. Aku takut masa itu datang saat aku masih membutuhkannya untuk menunggu sedikit lagi.

Atau mungkin karena aku masih belum teryakinkan. Atau setidaknya aku sudah membukakan jalannya menuju takdir Tuhan yang sesungguhnya.

Kau tahu? Saat ini kita seperti berada dalam belantara kemungkinan dan terperangkap dalam satu ruang harapan yang belum tentu diridhoi oleh takdir. Masih bisakah aku berkompromi tentang rasa sekali lagi? Bagaimana kalau ini sebenarnya adalah tentang keping-keping hati yang mungkin saja terlena dengan harapan, tentang mereka yang mengaku percaya tapi nyatanya tak bisa menunggu sedikit lagi, tentang mereka yang berusaha menerka takdir tapi takut dan kecewa melihat Tuhan berkehendak.

Aku tahu semua dialog intuisiku pada akhirnya hanya akan terdengar seperti pembelaan. Sekarang, kuserahkan pada semesta untuk bertindak atas perbuatan kejam yang kulakukan padanya dan diriku sendiri. Silahkan adili aku semau kalian, tenggelamkan aku pada dasar palung hingga tak ada perempuan yang kutemui sehingga tak perlu lagi ada harapan yang menggantung dan terpaksa harus kulepaskan secara paksa dari mereka.

Di antara waktu dan perasaan bersalah yang kian menghimpit, aku melihatnya lagi. Dia, perempuan tersakiti itu kembali dan kini berdiri di hadapanku, berjalan perlahan menangkup perasaanku yang kacau balau dengan tangannya yang hangat. Aku tak perlu menunggunya berbicara karena dekapannya sudah lebih dulu mengatakannya.

“Saya akan tunggu kamu, Biru..”.

Apakah ini cara semesta mengampuniku? Atau ini hanya jembatan ilusi antara perpisahan yang sama di lain waktu? Entahlah.

 

Aku dan keping-keping hati lain yang dinilai menyakiti.

6 thoughts on “Monolog Dalam Senyap

  1. April Hamsa says:

    Saya kurang pandai memahami bahasa2 puitis kyk gini. Tapi kalau tak salah ini ttg relationship yg gk direstui ibu gtukah? #sokteu hehe
    Soalnya emang pernah mengalami, tanpa restu ibu semua gk berjalan lancar, tapi begitu dapat restu ibu hal yg gak mungkin pun bisa aja terjadi 😀

    1. CSL says:

      Halo mbak April terima kasih udah baca ceritanya 🙂 Ini tentang laki-laki yang belum siap menjalin hubungan serius padahal sebenarnya cinta. Lalu dengan sepihak dia memutuskan untuk menyudahi hubungan itu dengan perempuannya. Dan di sini lebih menceritakan apa yang sebenarnya dirasakan oleh laki2 itu setelah dia menyudahi hubungannya, ia merasa dicap jahat, si pedang tanpa mata. Karena orang2 kebanyakan pasti hanya menilai dari pihak perempuannya saja.
      Satu cerita banyak memunculkan interpretasi, terima kasih banyak ya mbak April sudah berbagi interpretasinya. Masalah restu saya setuju sekali tuh mbak hihihi. Happy blogging ya mbak!

  2. Nurfaisyah says:

    Suka sama kalimat “Kita adalah sepasang kemungkinan yang menjelma menjadi asa”
    Ambil sudut pandang si Pria ya?
    Baper maksimal nih, apalagi dibaca sambil menikmati suara hujan di sore hari.
    Maaf, saya share di akun twitter saya ya @nurfaisyah_

    1. CSL says:

      Halo mbak Nurfaisyah, iya cerita ini pure sudut pandangnya si pria. Alhamdulilah kalau bisa dinikmati mbak sambil hujan2 hihihi, terima kasih sudah baca dan share ya mbak. Happy Monday, semoga selalu bahagia!

  3. yellsaints says:

    Puitis banget bahasanya mbak, kalau bisa dilampirkan foto2 ilustrasinya juga untuk mendukung cerita, biasanya aku lebih mudah memahami cerita jika ada visualnya.

    1. CSL says:

      Halo Mbak Yelli, terima kasih udah mampir, baca cerpen saya, dan memberikan input ya 🙂 Iya mbak saya pun berpikiran hal yang sama, semoga kedepannya saya bisa upload cerpen dengan gambaran visual biar membantu pembaca menikmati ceritanya ya. Happy Monday dan semoga bahagia! 🙂

Leave a Reply to CSL Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *