Cerpen Fiksi, One Shot Fiction

Love in Peace

90. Aku masih sibuk menghitung jumlah tetes embun yang turun dari daun pinus sore ini. Embun-embun itu menghampar keras bumi merasuk kembali ke akar sejak embun yang pertama. Sore ini begitu syahdu, meskipun hujan sudah berhenti sejak lima belas menit lalu, tapi kami sama-sama enggan beranjak. Kami memilih untuk larut dalam hening di bawah pohon pinus sambil menikmati tiap tetes hujan yang sesekali mengenai wajah. Kamu pasti sudah bisa menebak, sore ini kami berteman dengan hening yang diisi oleh aku, dia, pohon pinus, dan hujan.

Bagaimana aku menjelaskannya ya, pernahkah kamu tenggelam jauh dalam pikiranmu, menikmati tiap bisikan alam saat sedang bersama dengan seseorang? Seketika kehadirannya seperti tak lagi membuatmu excited dibandingkan dengan imaji yang ada dalam pikiranmu saat mendengar alam berbicara, entah lewat angin atau hujan. Rasanya tak perlu ada pertanyaan basa-basi untuk mengisi hening. Karena dengan dia, aku bisa menikmati hening tanpa canggung.

Hening tak berarti selalu sepi, he knows it perfectly. And we found our peace in silent.

Sesekali aku biarkan imajiku berjalan ke bibir pantai, berenang di tengah lautan bersama riuh ombak, atau tersesat di hutan belantara. Kadang aku berpikir tentang bagaimana jika waktu berhenti berputar sekarang atau bagaimana jika Einstein dan Steve Jobs tidak pernah ada. Complicated. Tapi, di antara semua imaji dan pertanyaan liar yang pernah aku pikirkan selama hening itu terjadi, kisah tentang bunga pinus dan hujan masih jadi yang paling misterius dan menarik.

Aku yakin tak pernah ada yang tahu sebelumnya ada cerita tersembunyi antara hujan dan si cantik bunga pinus. Tentang si charming hujan yang datang sesukanya membasahi alam lalu kembali lagi nanti tanpa rencana. Ia menebar pesona kepada semua makhluk bumi dengan segala kesejukannya dan meninggalkan jejak basah di mana-mana. Dan di antara jutaan pecintanya, ada satu yang paling mencinta hujan, si manis bunga pinus. Tak peduli bagaimana cara hujan datang entah dengan damai atau harus berperang dulu dengan badai, tetap tak ada yang bisa mengganti hujan di hatinya.

I told you. Tak ada yang paling setia selain bunga pinus, meski kadang ia harus menunggu lama hingga si hujan datang lagi atau kadang rela terhempas keras jatuh ke tanah karena hujan yang datang begitu lebat. Tak jarang ia rela mati dan kering karna menunggu hujan yang tak kunjung datang. Ingin rasanya aku memaki hujan, meminta pertanggungjawaban atas kelancangan yang ia lakukan.

Tapi, kisah ini belum selesai.

105. Embun yang turun semakin sedikit dan kami tetap bergeming. Dia pun masih sibuk menikmati pesona pinus setelah hujan. Entahlah, apa ia pernah mendengar kisah tentang bunga pinus dan hujan? Apa pinus juga bercerita padanya? Apa ia tahu rahasia antara mereka?

Kembali ke kisah tadi, kini kita sama-sama tahu siapa yang tersakiti. Aku mengutuk hujan sejak saat itu, hingga suatu kali di senja berwarna keunguan hujan berbisik bahwa sebenarnya ia tak pernah pergi dari tanah tempat pinus berdiam. Mendekam selama yang ia bisa untuk menemani gerangan yang ia cinta di bawah sana. Akar Pinus.

Pada kenyataanya hujan tak pernah pergi, ia hanya memilih siapa yang ia cinta.

Kini hujan sudah benar-benar reda dan tak lagi menyisakan embun. Mungkin hujan sudah damai di bawah sana bersama sang akar, sama-sama saling menguatkan tak peduli alam berkata apa tentang mereka. Sementara itu, kulihat ada bunga pinus kering yang terjatuh keras ke tanah karena hujan tadi. Mati.

“Simpan..” Pria ini lalu duduk di hadapanku seraya memberikan sesuatu dan meletakkannya di genggaman tanganku.

“Apa ini?” Ada bunga pinus di genggamanku, mengerang kering berwarna coklat.

“Ngga ada cinta yang sekuat bunga pinus pada hujan, Senja.. simpen baik-baik. Dia mati dengan bahagia katanya”.

Ternyata hujan juga berbagi cerita padanya dan aku yakin kami sama-sama tahu bahwa sebenarnya tak pernah ada yang paling tersakiti antara ketiganya. Ini hanya kisah tentang dia yang tak terpilih lalu memilih untuk tetap mencintai hingga nanti.

Senja datang saat Bian menggenggam tanganku erat berjalan menjauh dari si pinus yang diam-diam balik bertanya-tanya tentang kami. Sejujurnya tak pernah ada yang mau tahu apa yang terjadi di antara aku dan Bian. Tidak aku ataupun dia. Kami sama-sama memilih untuk tak pernah berusaha mencari tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi. Berusaha sekuat tenaga menikmati apa yang terjadi karena aku terlalu takut untuk mengartikan segala isyarat alam ataupun hening yang seringkali tercipta dengan damai di antara kami tiap kali bersama, tentang waktu yang terasa selalu berakhir dengan cepat ketika bertemu dengannya, tentang rasa rindu yang tak pernah terobati jika tidak bersama dengannya atau tentang takut untuk merasakan hal yang berbeda saat tak lagi bersamanya dan membiarkan semua ini berakhir saat kutahu apa yang sebenarnya terjadi, sedangkan ia mungkin terlalu santai untuk menganggap semua ini tak ada artinya tanpa pernah bertanya tentang apa dan kenapa.

Lalu, apa ini saatnya untuk bertanya? Atau harus menunggu hingga mati dan kering seperti bunga pinus di genggamanku?

Related Posts

6 thoughts on “Love in Peace

  1. Andrian says:

    Kak Cynthia jurusan apa sih Kak?
    Bagus banget dah pemilihan bahasanya.
    Pikiran yang sudah kepanasan, sekarang sudah adem lagi gara2 kebayang hutan pinus dan hujan. Hahaha

    1. CSL says:

      Halo Andrian apa kabar? Jurusan ilmu komunikasi nih. Indeed, seneng juga ya tulisannya bs bikin pikiran org lain adem. Semoga ga ngerasain seteru antara bunga pinus & hujan ya Ndri! 😊

      1. Andrian says:

        Kabar baik 😄

        Hujan atau Pinus, Kak Cyn? Hujan aja deh. Hahaha
        Itu yang di Insta stories salah pencet pinus. Hahaha

  2. Dian Sastro says:

    Duhhhhh cyn, finally gw beneran “mampir” dan “stay” di blogmu. Bagus 😭

    Semangat nulis terus. Gw tetapkan jadi pembaca setia lo. :-*

    -Dian .S-

    1. CSL says:

      Asli sih gue kira beneran Dian Sastro komen!!!! 😂 thank you bosquw. Baca cerita yg lain ya! Kalau mau yg manis2 bisa baca The Art of Waiting, pasti pernah ngalamin juga 🙂

      1. Andrian says:

        Hahahahaha 😂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *