One Shot Fiction

A Journey of Loss

Halo Gili,

Jangan kaget pada siapa yang datang hari ini. Jangan berharap banyak pada turis sepertiku. Aku tidak terbiasa dan bahkan masih canggung bagaimana cara menyapa dan bermain dengan teman-teman pantaimu. Temani aku hari ini, aku hanya ingin mendengar, melihat, dan merasa dengan damai.

Gili, berbanggalah kamu jadi destinasi terakhir di dalam listku. Percayalah ini bukan perjalanan biasa, bukan untuk senang-senang seperti turis lainnya. I’m one of a kind. Ini perjalanan istimewa dengan sejuta emosi pada semesta, sekali seumur hidup dan tidak akan pernah aku lakukan lagi.

Gili, jadi begini caramu menyapa?

Teduh, tenang dengan sedikit hembus angin yang seolah merayu untuk duduk diam di bibir pantai. Coba sesekali ajak aku ke tengah, bawa aku bermain dengan buih ombak, antar aku ke tempat kalian kerap berbincang dengan senja. Maaf Gili, hari ini aku akan memaksa.

Gili, aku ingin tahu bagaimana ia balas menyapamu?

Damai sekali rasanya bisa duduk di sini setelah sekian lama mengitari separuh bumi untuknya. Aku ingin lebih lama di sini, menghirup udara yang dulu juga dihirupnya di sini. Setidaknya sampai senjamu ikut bergabung dengan kita hari ini dan kamu selesai bercerita tentang dia.

Jadi, apa yang ingin kamu ceritakan padaku sore ini?

Tak perlu sesulit itu untuk cerita dari awal, karena aku sudah sering mendengar darinya. Ceritakan padaku bagaimana dirinya bisa menyatu dengan alam begitu lekat, bagaimana caranya jatuh cinta pada senjamu. Ssst.. apa ia pernah sesekali menyelipkan namaku saat bertemu sang senja?

Gili, beginikah caramu menjawab semua pertanyaanku?

Mengapa kini hembus angin pantai terasa begitu menusuk hingga ke dalam? Bisakah kita berdamai? Tenangkan aku saat ini, duduklah di sampingku. Ceritakan pelan-pelan bagaimana kalian bisa bersahabat hingga akhirnya memilih untuk berseteru hebat dan dengan egois kamu tempatkan ia di dasar sana. Sendiri, tak terjamah dan tak dibiarkan untuk kembali.

Tidakkah kamu rindu pada raganya di pantai yang menyapamu ramah saat senja datang? Apa kamu terlalu mencintanya sampai kau sembunyikan ia dalam-dalam di dasar lautan?

Baiklah jika kamu tak mau cerita, aku takkan lagi memaksa.

Mungkin, memang aku saja yang tak pandai berbahasa dengan alam, tidak seperti dia yang kamu cinta.

Aku akan pulang sebentar lagi. Sampaikan padanya aku marah dan jangan merindu, karena aku takkan pernah kembali ke sini untuk menunggunya pulang dari dasar sana. Pergilah yang tenang.

Senja menyapa sesaat setelah angin Gili berbisik ramah menyibak helai rambutku. Indah, meskipun takkan pernah seindah jika Biru ada di sini melihatku menyelesaikan semua perjalanan yang pernah ia lewati. Melihat, merasa, dan menikmati apa yang dulu ia rasakan mungkin salah satu cara mengenang paling indah yang aku bisa lakukan.

 

Cyn

Related Posts

2 thoughts on “A Journey of Loss

  1. April Hamsa says:

    Senangnya bisa ke Lombok 😀
    Sekarang Lombok udah jd destinasi kesayangan buat piknik, setelah Bali ya mbak? TFS
    Salam kenal 🙂

    1. CSL says:

      Iya mbak, pengen ke sana lagi dan lagi. Tapi sebenarnya baik Lombok ataupun Bali masing-masing punya ceritanya sendiri kok 🙂 Terima kasih udah mampir, semoga bahagia bisa baca cerpen2 saya yang lain di website ini 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *